(Source: ronanroden, via saoirseronansource)
(Source: icanread)
Underwater model Hannah Fraser swims with a whale shark in Oslob, Philippines, for a one-of-a-kind photo-session. The stunt was the brainchild of US photographers Shawn Heinrichs and Kristian Schmidt.
Picture: Kristian Schmidt / Barcroft Media (via Pictures of the day: 8 January 2013 - Telegraph)
SI MISKIN YANG AGUNG
Karya:
D. Zawawi Imran
Dengan menyebut nama Allah
saya mulai sebuah kisah
tentang seorang manusia
bernama Pak Sanen
Ia bukan orang terkenal
dan tak pernah disebut-sebut di surat kabar
Orangnya sehat
meskipun kerempeng
Matahari yang pijar di langit
adalah iman dalam hatinya
Alamatnya mudah dicari
sebuah gubuk bambu beratap ilalang
di tepi sawah yang hijau
di ujung timur sebuah pulau
di untaian zamrud katulistiwa
Dalam katepenya
pekerjaan ditulis: tani
tapi ia tak punya sawah sendiri
Agamanya Islam, bukan sekedar Islam sunnat
Artinya, dalam sibuk yang bagaimana
shalat tak pernah dilalaikannya
Kalau Pak Sanen sedang bekerja
mencari upah di tengah sawah
lalu didengar azan mengalun:
“Hayya alash shalah
Hayya alal falah
Ayo kita tegakkan shalat
Mari kita peluk kebahagiaan”
Pak Sanen terkesima
bagai mendengar nyanyian sorga
Ia lalu rindu bertemu Allah
untuk menadah
taburan rahmat dan cinta
Segera ia berwudhu meskipun dengan air sawah
Sedikitpun ia tidak merasa malu
menghadap Allah dengan apa adanya
dengan baju kumal bertambal-tambal
dan sarung tua yang tak jelas lagi warnanya
ia tegak di tanggul sawah
karena seluruh permukaan bumi adalah sajadah
Ia bertakbir
dan mengucapkan munajat:
“Sesungguhnya shalatku, amal ibadahku
hidup dan matiku
bagi Allah semata
Tuhan semesta alam”
Pak Sanen dalam shalat
kakinya teap tertancap di bumi
namun hatinya bagai rajawali yang perkasa
menembus langit biru
menggetarkan matahari dan bintang gemintang
Sungguh pemandangan rohani yang mempesona
Seorang hamba Allah yang miskin
masih bersyukur
dalam kemiskinannya
Bila Pak Sanen memandang dunia
dan semua kemegahannya
dirinya seperti tak punya apa-apa
Tapi bila ia tafakkur
dan menyalakan zikir dalam hatinya
Dunia ini menjadi kecil
semakin kecil
hingga menjadi sebutir debu
Hanya Allah yang Mahabesar
Allahu Akbar
Tiba-tiba
ia merasa kaya
karena ia punya Allah
Itulah Pak Sanen
saudara kita seiman
Ia miskin
dan kemiskinannya telah berlangsung tujuh turunan
Tapi ia tak suka meminta-minta
sampai dirinya tak punya harga
Baginya
salah satu seni kehidupan yang paling indah
ialah berkelahi melawan iblis dan setan
yang akan menenggelamkannya
ke lumpur bencana tak terduga
Dulunya
kalah dan menang bertukar silih
Tapi pengalaman demi pengalaman
yang dikuatkan azam pantang menyerah
telah membuat
ia jadi pemain silat yang handal
Semakin tua umur Pak Sanen
semakin tegar ia
dan semakin lincah jurus terjangnya
hingga iblis dan setan
terjungkal kalah
Suatu malam
ketika anaknya yang paling kecil
menangis lapar
Setan menganjurkan agar Pak Sanen
mencuri ketela di kebun tetangga
Andaikan ia mau
O, terbuka sekali kesempatan
Namun ia merasa
Allah akan melihat perbuatannya
Ia malu dilihat Allah
untuk main sikut dan main sikat kanan kiri
Ia merasa malu kepada Allah
yang akan menyaksikan
anaknya disuapi dengan makanan haram
Itulah Pak Sanen
hamba Allah yang miskin
yang gak mau darah saudaranya jadi minuman
yang tidak suka
daging bangsanya jadi santapan
Gaza boy killed by Israel dreamed of becoming soccer player
GAZA CITY (Ma’an) — Hamid Younis Abu Daqqa, 13, always wore his Real Madrid shirt when he played soccer with his friends. He died wearing the same shirt, killed by Israeli forces before the second half of a game with friends could be finished.
His father said Hamid would imitate Real Madrid star Ronaldo while playing in front of his Gaza home.
“My house is located in an area away from clashes, nearly one and a half kilometers away from the nearest point of the borders with Israel, therefore I didn’t have a problem with my son playing in front of the house,” Hamid’s father told Ma’an.
“I received a phone call. His friend was on the phone telling me that my son was shot in the chest. I rushed to the hospital and found him dying.”
Hamid would never miss a Real Madrid game.
-Men mourn next to the body of Hamid Younis Abu Daqqa, who waskilled by gunfire from Israeli forces, during his funeral in Khan Younis
in the Gaza Strip November 9, 2012. (Reuters/Mohammed Salem)
RIP and Al-Fatihah for you Hamid..
(Source: fuckyeahmarxismleninism, via trueguidance-deactivated2013030)
(Source: moving-ideas, via auzubillah)